Assalamualaikum..Salam sejahtera..Selamat datang di blog saya!Bila ingin copas harap cantumkan kode url blog saya ya ^_^ Ouh ya jangan percaya ya readers bila ada pihak-pihak yang mengatasnamakan blog ini karena BLOG INI TAK PERNAH MEMPUNYAI AKUN-AKUN JUALAN, PINJAMAN,DAN INVESTASI.TELITI LEBIH JAUH KOMENTAR PADA BLOG SAYA YA THX
Blowing In The Wind Pink And Green Flower
Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 November 2014

Sumber:Abatasa

Pernahkah kita mencoba mengingat akan masa lalu………..????
Sembilan bulan kita hidup dalam kandungan sang bunda……
Bunda selalu membawa kita kemanapun ia pergi………
Tak pernah ia berfikir untuk menanggalkan kita walau sejenak………
Lalu kita pun lahir dengan tangis pertama kita menyapa dunia ini……
Bunda pun selalu ikhlas merawat kita dengan penuh kasih sayang……
Kadang kita telah begitu saja mengambil waktu istirahatnya dengan tangis kita di malam hari……mengganti popok kita yang basah, memberikan kita air susu ketika kita lapar………….
Dan kita hanya bisa menangis saja ketika itu………
Kita selalu diayun, dipangku dan ditimang-timang
Lalu apa balasan kita waktu itu………..????
Kita sering membuat basah baju bunda dengan air kencing kita……
Dan Bunda tak pernah sekalipun memarahi kita……



Usia kitapun beranjak perlahan……
Ingatkah ketika hari pertama kita masuk sekolah……???
Setiap pagi, Bunda selalu memandikan kita,………menyuapi kita………mengantar kita dan menunggui kita……
Bunda begitu sabar mengiringi hari kita di sekolah……
Dan kita hanya bermain ketika itu……
Lalu ketika kita beranjak remaja………
Bundapun tak henti untuk menghawatirkan kita……
Ketika kita sering pulang terlambat dengan berbagai alasaan……
Bunda hanya menatap dengan penuh cemas……
Padahal mungkin kita hanya bersenang-senang di luar sana……
Ingatkah kita pada saat hari raya idul fitri………
Sering bunda membelikan kita baju, sepatu, celana baru………
Dengan harapan kita akan merasa senang……
Ingatkah pula apa kata kita ketika itu………..
“Ah….bajunya udah kuno gak mau ah” bunda ‘nggak tau selera anak muda…
dan bunda hanya tersenyum saja……
Saat kita mengenal cinta akan sesama………
Sering kita membohongi bunda hanya untuk bercinta semata……
Dan bundapun tak pernah lepaskan kasih sayangnya untuk kita……
Ketika bunda bilang………”Nak…….mestinya kamu sekolah dulu yang benar….jangan dulu berpacaran….””
Lantas kita hanya menjawab ”bu, saya udah gede, saya tau apa yg baik buat saya, ibu jangan terlalu mengatur saya dong!!”
Bunda hanya tersenyum dan menatap kita dengan penuh kasih sayang…


Apakah kita ingat saat kita memasuki bangku kuliah…
Bunda dengan penuh semangat memberikan biaya kuliah kita yang setinggi langit…
Lalu mungkin kita juga hanya bersenang-senang saja dengan dunia yang sedikit beranjak dewasa……
Ketika kita butuh uang utk menuntaskan hasrat cinta muda kita……
Sekali lagi kita sering membohongi bunda……
dengan mengatakan….”bu……saya butuh uang….untuk biaya praktikum……kira-kira….sekian juta..”
Lalu bunda bilang………….”nak…….apa tidak bisa di cicil…??
Kita dengan segera menjawab…..”gak bisa bu….harus sekali bayar……..”
Kita tak pernah tahu apa yang ada di benak bunda ketika itu……
Jika saja bunda tahu bahwa itu hanyalah alasan kita semata…..karena mungkin saja yang sebenarnya adalah kita butuh uang untuk mentraktir atau menyenangkan pacar tersayang saja…
Dan ternyata bunda selalu saja menyayangi dan berusaha mempercayai kita.

Pada saat kita lulus kuliah………
Kita mungkin bisa melihat betapa bangganya bunda mendapati anaknya sudah menjadi seorang sarjana menangis penuh haru bahagia bunda ketika itu
Lalu tak lama setelah itu……tiba-taba….
“Bu….sekarang saya sudah dewasa……saya ingin menikahi si anu……….karena saya mencintai dia………boleh kan bu……..?”
Mungkin bunda akan bilang ; ”Nak mustinya kamu mencari kerja dulu, lalu setelah sedikit mapan mungkin kamu bisa menikah”
Lalu apa jawab kita; ”Bu! kalo ibu percaya, .saya sanggup untuk memberikan makan dia tanpa ibu kasih, saya harap ibu tidak melarang niat saya untuk menikah sekarang, saya sudah dewasa bu, bukan anak kecil yang segalanya harus ibu perhatikan!! !”
Dan demi kasih sayangnya terhadap kita, maka bundapun sekali lagi meluluskan keinginan kita, sekaligus memberikan kita sedikit bekal untuk mengarungi biduk rumah tangga kita nanti.
Tak berapa lama setelah itu, kitapun merasa sanggup untuk hidup terpisah dari beliau….maka sekali lagi kita merajuk pada bunda.


Pada saat bunda sudah memasuki hari tuanya, kita pun meninggalkan dia dalam hari-hari senjanya.
Dan bunda tak pernah meminta kita untuk menemaninya karena bunda pikir anaknya sudah mempunyai kehidupan sendiri.
Bertahun-tahun kita meninggalkan bunda dan mungkin hanya setahun sekali saja kita menengok dia, itupun pada saat Hari Raya saja.
Lalu, ketika Bunda sakit di hari tuanya,
Mungkin bunda mengharapkan kasih sayang anaknya bisa sedikit menghibur dia.
Tapi, sering kita mengabaikan harapan bunda……
Kita mungkin merasa direpotkan hanya dengan mengurusi seorang wanita tua yang sudah tak berdaya itu, .maka dengan tanpa ragu lagi kita antarkan bunda pada sebuah panti jompo, kita tinggalkan bunda dengan segala harapannya terhadap kita.
Lalu pada saat Allah hendak menjemput dia, kita mungkin sedang tenggelam dalam kehidupan yang sudah menyita sebagian hati nurani kita.


Hingga satu hari terdengar bunyi dering telepon yang memberikan kabar bahwa bunda telah tiada.
Dan aku tak berani bilang bahwa mungkin saja hati kita sudah bebal dan telinga kita sudah tuli akan kenyataan ini.
Ada sesal mungkin di sana, .sesal yang tak akan terbalas dengan sejuta tetesan air mata kita.
Dan kitapun hanya meratapi kepergian bunda, ya bunda yang sudah mencetak kita dengan segenap kasih sayang bunda yang tak terperi ketulusannya, sesal yang tiada guna ketika kita tahu bunda pergi bersama setitik harapan bunda bahwa dia ingin anaknya ada ketika hembusan nafasnya yang terakhir memutuskan kehidupannya.
Dan kita hanya terpekur menatap bekunya batu nisan bertahtakan nama bunda. Itupun jika masih ada secuil nurani kita yang masih berwarna putih.

Kutuliskan ini, untuk mengenang bahwa bunda adalah pembawa syurga buat anaknya, mungkin ini tak semua benar, tapi tak mustahil ini terjadi dan ada di dunia ini.
Bunda, .aku menyayangi bunda seperti aku menyayangi syurgaNYA.
Maafkan anakmu ya bunda.
Peluk cium anakmu selalu.
 
Pendusta kembali berjalan
Dalam naasnya sepi tak berujung koma
Merah yang kini menghitam
Putih yang semakin pudar

Tidakkah kalian malu?
Bumi seperti merintih kesakitan
Dia mengerang keras menunjukkan rintik dibumi
Mulutkupun hanya diam tersulam jarum

Kembali tangisan jelata menghiasi negriku
Kulihat lagi orang gila di ujung jembatan kota Jakarta
Dan… Harumnya demontrasi marak terjadi
Akan jadi apa negriku?...

Pilu selalu dilayangkan setiap samudra penipu
Dari banteng hitam buluk, hingga kuning seperti kotoran
Mau apalagi mereka?... pencitraan merenggut kepercayaan
Toh, pemimpinnya dia yang tubuhnya langsing

Negriku kumohon bertahanlah…
Jangan sampai kalian sesedih November 2014
Tetapkanlah iman kepada Tuhan YME
Agar diberi petunjuk sejernih-jernihnya

Selasa, 07 Januari 2014



Tuan dengarlah hatiku yang pilu
Dulu kau sering bersumpah palsu
Menabung janji manis nan sendu
Menyenangkanku dengan seikat rayu

Tuan kau mahapatih cinta manis
Kau tau aku terlena magis
Membuatku melayangkan alis
Pada dirimu yang berubah drastis

Darimu kutemukan khianat
Lebih mahal dustamu daripada laknat
Kau hilang dari setiap keheningan logat
Kau sisakan semua kepalsuan tabiat

Selasa, 03 Desember 2013


Pada suatu malam kau belai rambutku
Kau bilang diriku harus menjadi yang terbaik
Aku tahu dirimu selalu berharap padaku
Namun...
Semua berbalik pada diriku
Aku selalu nakal dan melawanmu
Membentakmu ketika dalam emosi
Kau menangis dan memaafkanku

Ketika aku berusaha memberontak
Tubuhmu menghangatkanku
Emosiku hilang seketika
Aku khilaf saat itu

Kau selalu berbohong demi aku
Kau selalu menangis demi aku
Kau selalu menderita demi aku
Aku tak melakukan apa-apa untukmu

Maafkan aku.. aku tak tahu diri
Selalu saja seperti ini
Lalu aku jatuh dalam pelukanmu
Bolehkah aku bersandar sejenak?

#Rumah_Sunyi #Bait_Puisi

Aku tak tahu jari ini harus kemana?
Kemudian kudengar berita dikampusku
Membuatmu untuk sekedar mengerjakan tugas
Lalu.. kita bertemu dalam sebuah malam

Awal kisahku bagaimana cara menggunakanmu?
Selayaknya kutuangkan tugas dan tulisan maya
Tak terasa ada teman memberikan komentar
Mereka follow blogku membuat hatiku melambung

Tertata penuh kamu sekarang
Kita sudah punya teman kawan..
Kita sudah punya tulisan kawan..
Aku sudah punya kamu dalam hidupku

Aku melangkah pasti sekarang
Terimakasih kau mau menampung semua
Bergurat dari aksi dan fana setiap hari
Bercatatan debu dan air mata

#Rumah_Sunyi #Bait_Puisi

Boleh kusapa kau disana
Melihat dunia dari tepi mata
Jauh sekali kau bisa nelangsa
Sedang aku hanya dikursi roda

Tahukah kau pujangga?
Kenapa alam mengamuk pada dunia?
Karena mereka hanya menggunakan
Bahkan tidak dirawat dan dibuai kasih

Mereka merindukan cinta manusia
Bukan permusuhan malapetaka
Bukan idiot kemunafikan
Bukan sampah hawa nafsu

Pujangga.. kurasa ini tak adil
Pasti mereka akan seenaknya
Kudengar matahari pun sudah tak nampak
Bergantikan hujan semi akut

Bagaimana jika kering sana-sini?
Bencana alam berlipat?
Hilang semua populasi?
Apa yang kita lakukan sebagai pemimpin?

#Rumah_Sunyi #Bait_Puisi

.

.

.

.
Diberdayakan oleh Blogger.